Pada sesi Business Partnership Strategy dalam rangkaian CITCOM Unconference – Digital Leaders Business Forum, yang difasilitasi oleh Andhitiawarman Nugraha (CEO Fujicon), peserta membahas bagaimana membangun partnership yang sehat, adil, dan berkelanjutan di tengah ekosistem bisnis digital yang semakin kolaboratif. Diskusi berlangsung aktif dan mencakup berbagai bentuk kerja sama yang banyak ditemui oleh para pelaku industri.
1. Latar Belakang: Bentuk Partnership Semakin Beragam
Di sesi ini, peserta berbagi pengalaman mengenai berbagai model partnership, mulai dari:
- Internship & program pengembangan talent
- Supply project atau kerja sama project-based
- Kolaborasi teknis antar perusahaan
- Hingga model open business, di mana dua pihak membangun solusi bersama
Keberagaman bentuk ini memunculkan pertanyaan besar:
Bagaimana menciptakan partnership yang benar-benar seimbang dan saling menguntungkan?
2. Isu Fairness: Proporsi Harus Berdasarkan Kontribusi, Bukan Ego
Isu fairness muncul sebagai salah satu topik paling kuat.
Pembagian revenue seperti 50:50, 60:40, atau 65:35 sering kali lebih dipengaruhi ego dan persepsi subjektif dibanding kontribusi riil yang dibawa masing-masing pihak.
Karena itu, sejak awal setiap pihak perlu menjawab pertanyaan mendasar:
“Apa yang kita bawa ke meja?”
Termasuk:
- Kapabilitas teknis
- Aset & infrastruktur
- Jaringan & akses pasar
- Risiko yang diambil
- Nilai tambah dan kontribusi nyata
Kejelasan sejak awal akan meminimalkan konflik dan menjaga hubungan tetap sehat.
3. Menjaga Kualitas Lewat Standardisasi
Partnership yang baik tidak hanya bergantung pada kesepakatan finansial, tetapi juga kualitas eksekusi.
Poin yang dibahas:
- Pentingnya standardisasi proses kerja
- Quality control yang konsisten
- SOP yang disepakati bersama
- Mekanisme eskalasi jika terjadi deviasi kualitas
Komunitas seperti CITCOM dinilai berpotensi menjadi rujukan best practice dan platform untuk penyusunan standar kolaborasi yang dapat digunakan lintas perusahaan.
4. Due Diligence & Manajemen Risiko
Sebelum partnership dimulai, perlu dilakukan due diligence untuk memastikan kedua pihak saling memahami ekspektasi dan kapasitas masing-masing.
Hal yang perlu dicek:
- Rekam jejak & reputasi
- Kualitas eksekusi proyek-proyek sebelumnya
- Struktur organisasi & kemampuan delivery
- Potensi konflik kepentingan
- Risiko kompetitif di pasar
Tanpa due diligence, partnership berisiko gagal bukan karena niat, tetapi karena ketidaksesuaian kemampuan.
5. Kesimpulan: Fondasi Partnership yang Sehat
Dari berbagai contoh kasus yang dibahas—mulai dari negosiasi harga, pembagian revenue, alokasi biaya, hingga komitmen delivery—disimpulkan bahwa partnership yang sehat dibangun di atas:
- Transparansi
Komunikasi terbuka
Kesepakatan yang jelas sejak awal
Dengan fondasi ini, partnership dapat menjadi sumber growth, inovasi, dan value creation jangka panjang.
Perjanjian Penting dalam Partnership
Sesi ini juga menyoroti pentingnya dua perjanjian yang sering terlewat namun sangat krusial:
1. Anti-Dilution Agreement
Melindungi saham founder agar tidak terdilusi karena struktur kerja sama yang tidak adil.
2. Anti-Competition Agreement
Melindungi kedua pihak agar partner tidak membuat produk atau layanan yang bersaing langsung dengan bisnis kita.
Perjanjian ini dianggap penting untuk menjaga fairness dan keberlanjutan hubungan bisnis.